Selasa, 07 Desember 2010

Merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan




Hari ini tanggal 08 Desember 2010 merupakan hari yang sangat istimewa bagi umat Hindhu yang merayakan Hari Raya Galungan. Setelah sehari sebelum Hari Raya Galungan, masyarakat Hindhu khususnya di Pulau Bali menyiapkan diri untuk menyambut Hari Raya Galungan dengan mengadakan prosesi "Penampahan Galungan" yaitu di mana seluruh umat Hindhu menyembelih babi.

Pada umumnya persiapan penampahan sudah di persiapkan jauh hari sebelumnya, dengan membuat semacam kelompok patungan daging babi, artinya seberapa berat/ banyak daging babi sebelum di sembelih, dipastikan untuk di timbang terlebih dahulu, tujuannya untuk mempermudah membagi seberapa jumlah uang yang harus di keluarkan oleh masing-masing orang di dalam kelompok tersebut dengan menyesuaikan harga daging saat hari itu.
Setelah masing-masing mendapatkan bagian, maka masing-masing orang membawa bagiannya dan selanjutnya mengolahnya di rumah mereka, dan juga dalam mengolah daging bagian tersebut,untuk membuat persiapan untuk sesajen yang terkait dengan daging babi.Dan selain daging babi, orang-orang juga menyembelih ayam untuk keperluan sesajen dan di kosumsi juga. Ada yang membuat sate, adonan untuk LAWAR (Sayur ala orang Bali), dan adonan lain-lain masih banyak lagi bisa untuk olahan daging babi atau daging ayam tersebut.

Sehari setelah itu, umat Hindhu mempersiapkan diri untuk melakukan persembahyangan bersama dengan keluarga dengan terlebih dahulu mempersiapkan Upakara atau sesajen yang di perlukan saat Hari Raya Galungan. Terutama para ibu-ibu atau wanitanya sangat sibuk mempersiapkan sesajen tersebut hingga selesai. Unik, Menarik dan penuh dengan aura spiritual saat mempersiapkan dan merayakan Hari Raya Galungan kali ini. Pada pagi hari sebelum melakukan prosesi di masing-masing keluarga, semua Umat Hindhu menghaturkan persembahyangan ke Pura Tri Kahyangan yang ada di masing-masing Desa, seperti Pura Desa/ Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Dan tidak lupa memohon Tirta (Air Suci) yang kumudian kita gunakan untuk prosesi selanjutnya di masing-masing pura keluarga (Merajan keluarga).

Berkumpul dan bersenda gurau dengan keluarga saat Hari Raya Galungan, kita adakan saat sehari setelah kita merayakan Hari Raya Galungan yang di sebut dengan "Manis Galungan". Waktu seperti ini sangat di nanti-nanti oleh para anggota keluarga, karena apalagi tidak semua anggota keluarga berada di tempat kelahirannya, yang sebagian besar mereka ada di tempat rantau atau di kota, sehingga momen semacam inilah digunakan untuk melepas kerinduan dengan anggota keluarga khususnya untuk orang tua yang masih ada dan sanak saudara yang lainnya.

Setelah sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, di sebut dengan Hari Raya Kuningan. Prosesinya tidak jauh berbeda dengan Hari Raya Galungan, merupakan runtutan dari Hari Raya Galungan ( Untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa(Tuhan Yang Maha Esa) serta Para Leluhur).

Itu sekilas tentang salah satu Hari Raya yang ada di Bali atau umat Hindhu, dan masing ada hari raya yang lain yang bisa di baca artikelnya di lain kesempatan.
Dan mungkin bagi para pembaca yang memiliki masukan lain yang positif tentunya bisa di sampaikan pada kolom komentar!!!

Akhirnya; Selamat merayakan Hari Raya Galungan Dan Kuningan bagi yang merayakan, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME)senantiasa menganugerahi kebahagiaan bagi kita semua....

Sabtu, 27 November 2010

Gunung Batur


Gunung Batur (8 derajat 14'30"Lintang selatan,115derajat 22'30"Bujur timur),yang terletak di Kintamani, merupakan gunung api yang masih aktif. Kaldera Batur berbentuk elip dengan sumbu panjang 13,8km dan lebar 10km (kaldera I) dan kaldera lainnya terletak didalamnya berbentuk melingkar dengan garis tengah 7,5km (kaldera II).Kaldera I terbentuk 29.300 tahun yang lalu, sedangkan kaldera II terbentuk 20.150 tahun yang lalu.

Sejak tahun 1800 Gunung Batur sudah meletus sekurang-kurangnya 24 kali. Letusan pertama tercatat tahun 1804, terakhir terjadi bulan juli 2000, dan letusan dengan leleran lava terbanyak tahun 1963, dengan 3 titik leleran. Letusan dasyat dari Gunung Batur ini pertama kali tejadi 29.300 tahun yang lalu, yang menyisakan Gunung Abang (2152m)sebagai sisa kerucut Gunung Api Batur Purba. Letusan besar kedua terjadi 20.150 tahun yang lalu, diikuti dengan pembentukan beberapa krucut dan kubah, seperti Gunung Payang dan Gunung Bumbulan.Amblas ke dua kali membentuk kaldera II dimana kerucut kedua gunung ini (Gunung Payang dan Bumbulan) ikut amblas sampai separonya. Amblas II kalinya kaldera I membentuk undak Kintamani di sebelah barat dan barat laut di dalam kaldera. Kegiatan purna kaldera diawali sekitar 5000 tahun lalu, ditandai pertumbuhan kerucut Gunung Batur hingga kini.

Kegiatan pemantauan aktivitas Gunung Batur dilakukan dari pos Pengamatan yang terletak di kawasan hutan Penelokan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pemantauan dilakukan dengan pengamatan visual dan seismic. Seismograf yang dipasang bersistem pancar radio (radio-teleseismograph) dengan sebuah piranti penangkap gempanya (seismometer) diletakan dilereng sebelah tubuh gunung Batur pada ketinggian kurang lebih 1.350m.

Sisa-sisa lahar yang membeku berwarna hitam, Gunung Batur tegak menjulang, serta danau Batur teduh membiru merupakan suatu daya tarik bagi wisatawan. Pemandangan yang sangat menarik dari penampakkan seluruh gunung batur beserta danaunya dapat dilihat dari tempat ketinggian dari Penelokan.

Wisata mendaki Gunung Batur untuk melihat matahari terbit (sunrise) dari puncak gunung dengan ketinggian 1.717m di atas permukaan laut (atau 686m dari permukaan danau Batur) ini merupakan kegiatan yang menarik bagi wisatawan yang suka pada alam serta kegiatan petualangan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan pemandu khusus yang menangani pendakian yang sudah dapat pembinaan secara menyeluruh dari instansi terkait, serta telah mendapat sertifikat khusus pendakian dari Disparda Bali pada tahun 2003.

Warung-warung kecil menjual minuman serta makanan tersedia di sepanjang jalur pendakian bahkan hamper sampai ke puncak gunung. Oleh sebab itu para pendaki tidak perlu membawa makanan atau minuman dalam jumlah yang banyak, karena mereka bisa membelinya di sepanjang jalur pendakian.

Wisatawan yang mendaki bisa langsung datang dari seperti Denpasar, atau menginap di penginapan yang ada di sekitar Penelokan atau Toya Bungkah. Wisatawan yang habis mendaki dapat menikmati hidangan dengan berbagai menu di rumah makan dan restaurant atau membeli makanan dan minuman di warung-warung yang banyak tersebar di sekitar Toya Bungkah.

Sumber-sumber yang menyebutkan tentang Batur adalah Lontar Kesuma Dewa, Lontar Usana Bali, dan Lontar Raja Purana Batur. Isi Lontar Usana Bali tersebut antara lain menyebutkan: adalah ceritera terjadi pada bulan Marga Sari (bulan ke-5) waktu Kresna Paksa(tilem) tersebutlah Betara Pasupati di India sedang memindahkan Puncak Gunung Mahameru di bagi menjadi dua, di pegang dengan tangan kiri dan kanan lalu di bawa ke Bali di gunakan sebagai sthana putra baliau, yaitu Betara Putranjaya (Hyang Maha Dewa) serta Betari Danuh, keduanya itulah sebagai ulunya Pulau Bali.

Untuk mencapai obyek wisata Batur dari Denpasar, wisatawan menempuh jarak 65km, dan dari kota Bangli 23km. setelah sampai disekitar Penelokan, wisatawan lalu turun ke lokasi pendakian yang dapat di tempuh dalam waktu sekitar 20menit.

Obyek wisata Batur dapat di capai dengan kendaraan bermotor. Obyek ini terletak pada jalan yang menghubungi kota Bangli dengan kota Singaraja. Sedangkan dari segi rute obyek, obyek wisata kawasan Batur menghubungkan obyek wisata Tampaksiring dan Besakih.

Selasa, 16 November 2010

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali



Hari Raya suci Umat Hindu yang umum dirayakan adalah : Nyepi, Galungan, piodalan, Sarasvati puja, Sivaratri puja dan sebagainya. Diantara pelaksanaan hari raya suci tersebut yang paling menonjol adalah hari raya Nyepi jatuhnya dalam periode waktu satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat ini matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakni waktu yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi dilengkapi dengan upacara Tawur (Bhuta Yajna) yaitu hari Tilem Chaitra dengan ketentuannya dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan apabila melaksanakan tawur hendaknya jangan mencari hari lain selain Tilem bulan Chaitra.

Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai dengan acara Melasti, kemudian sehari sebelum hari raya Nyepi dilangsungkan upacara Bhuta Yajna, dan sebagai hari penutup dilaksanakan Ngembak Agni sehari setelah hari raya Nyepi. Keseluruhan kegiatan ini dipusatkan di Pura Desa Puseh, dihadapan Tuhan Purusa atau Sri Visnu, dan Deva Brahma. Sebagai penyembah dalam kesadaran Krsna atas karunia sang guru kerohanian kita diberi penglihatan rohani dapat melihat pemandangan secara terang betapa agungnya kemulyaan Sri Visnu dengan nama lain Yajnapati, Tuhan penikmat dan tujuan akhir dari segala kurban suci bagi seluruh penghuni alam jagat raya.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali Upacara Melasti

Sebelum pelaksanaan Melasti, semua para deva (arca atau pratima) dari setiap pura dalam wilayah lingkungan kota atau desa diiring berkumpul di Pura Desa Puseh. Para deva satu-persatu berdatangan setelah lebih terdahulu bersujud menghadap Meru, Sri Visnu, kemudian distanakan berdampingan satu sama lain dalam satu bangunan memanjang yang disebut sebagai Balai Panjang atau Balai Agung. Keesokan harinya upacara Melasti dilangsungkan, Tuhan Sri Visnu dan para deva diiringi bersama-sama menuju laut atau ke mata air terdekat yang dianggap suci tergantung daerah masing-masing. Upacara Melasti tidak lain adalah upacara penyucian, prayascita. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan : “Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dari keterikatan dunia material,” sedangkan lontar Sundarigama menyatakan; “Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.” Air suci ini berasal dari muara sungai-sungai suci di India khususnya sungai Gangga.

Dalam Srimad Bhagavatam skanda sembilan disebutkan Raja Bhagiratha melakukan pertapaan agar air Gangga turun ke bumi, kemudian memohon kepada ibu Gangga membebaskan leluhurnya. Ibu Gangga tersembur dari kaki padma Tuhan Sri Visnu, Beliau dapat membebaskan seseorang dari ikatan material. Nampak nyata bahwa siapapun yang secara teratur menyembah Ibu Gangga semata-mata dengan mandi di airnya dapat memelihara kesehatan dengan sangat baik dan perlahan-lahan menjadi penyembah Tuhan. Mandi air Gangga dipermaklumkan dalam semua susastra Veda, dan orang yang mengambil manfaat tentu sepenuhnya dibebaskan dari reaksi dosa.

Seusai acara Melasti, pada suatu daerah desa tertentu sebelum Sri Visnu dan para deva menuju Pura Desa Puseh terlebih dahulu diiring (dituntun) ke pasar mengikuti acara mepasaran di hadapan Pura Melanting dimana berstana Devi Sri, Devi Laksmi, Devi Keberuntungan. Sekembalinya para deva dari acara mepasaran setelah terlebih dahulu menghadap Sri Visnu, akhirnya para deva berstana di Balai Agung. Sementara Sri Visnu berstana di Meru dan Deva Brahma berstana pada bangunan Gedong di sebelah Meru. Acara berstana ini disebut Nyejer dan berlangsung sampai selesai acara Bhuta Yajna, sehari menjelang hari raya Nyepi, pada sore hari.

Selama beberapa hari seluruh warga dan adat setempat melakukan puja, mempersembahkan sesajen atau persembahan yang disebut prani. Pada saat ini pula umat memohon tirta Amrta air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya, semua makhluk, dan alam semesta. Melalui acara Nyejer terkandung pula permohonan umat kepada Sri Visnu dan para deva untuk menyaksikan upacara Bhuta Yajna yang dilakukan oleh umatnya.

Upacara Bhuta Yajna

Sehari sebelum hari raya Nyepi adalah hari terakhir dari serangkaian upacara di Pura Desa Puseh tersebut, tepatnya pada hari Tilem Chaitra (Kesanga) dilangsungkan upacara Bhuta Yajna yang dikenal dengan Pengerupukan yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sri Visnu, manusia dengan sesama makhluk ciptaan-Nya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup.

Dalam Bhagawadgita 4.8 Sri Krsna bersabda : Paritranaya sadhunam vinasaya ca duksrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma. Aku sendiri muncul pada setiap zaman.

Tentang Bhuta Yajna ini di dalam Agastya Parwa dinyatakan Bhuta Yajna adalah Tawur untuk kesejahteraan makhluk. Dalam hubungannya dengan hari raya Nyepi, wujud upacara Bhuta Yajna lebih dikenal Tawur Kesanga yang dilihat dari tingkat penyelenggaraannya dari tingkat yang paling besar : seratus tahun sekali disebut Ekadasa Rudra, setiap sepuluh tahun disebut Panca Wali Krama dan setiap tahun sekali disebut Tawur Kesanga.

Upacara Hari Raya Nyepi

Menurut keputusan Seminar Kesatuan Tapsir terhadap Aspek-spek Agama Hindu tentang Hari Raya Nyepi (1988) bahwa Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, pada hakekatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut : (1). Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, (2). Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, (3). Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri, (4). Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” yaitu fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24) jam.

Upacara Ngembak Agni

Hari Ngembak Agni jatuh setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma shanti baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

Dharma shanti dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam kelurga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru terbinanya kerukunan dan perdamaian. Sedangkan dharma santi di lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan dharma wecana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung kekawin pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan serta memberikan “punia” atau berdarma sosial kepada yang patut menerimanya.

Minggu, 31 Oktober 2010

Trunyan Tour





Desa Trunyan



Desa Trunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kintamani kabupaten Bangli. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang unik dan menarik. Bali Aga berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti orang Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu kebudayaan petani yang konservatif.

Berdasarkan folk etimologi, penduduk Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi. Versi pertama : orang Trunyan adalah orang Bali turunan, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka turun dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu mite atau dongeng suci mengenai asal usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit. Versi kedua: orang Trunyan hidup dalam sistim ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang memancarkan bau-bauan wangi. Dari perpaduan "taru" dan "menyan" berkembang menjadi kata Trunyan yang di pakai nama desa dan nama penduduk desa tersebut.

Menurut Dananjaya yang dikutip pada tahun 1980, dia memandang ada 11 cerita prosa rakyat (satu mite dan 10 legenda), dan sebuah anggapan rakyat yang dapat digunakan sebagai bahan penyusunan sejarah Desa Trunyan. Salah satu legenda itu di sajikan dalam tulisan ini, yaitu legenda mengenai Pasek Terunyan yang menyelewengkan gambelan pemberian Dalem Solo.

Konon Dalem Solo mempunyai seorang putra yang sedang memerintah di Tirta Empul, Tampaksiring. Pada suatu ketika putera tersebut pergi ke Majapahit untuk meminta di buatkan seperangkat gambelan.

Desa Trunyan terletak di sebelah timur bibir danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang.

Hawa udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12 derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat Bali selatan dan timur.
Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:

1. Meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

2. Dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.

apa komentar anda?

Jumat, 29 Oktober 2010

Air Panas Banjar


Air panas Banjar adalah suatu air panas alam yang dianggap dapat menyembuhkan penyakit. Airnya ditampung pada suatu kolam renang mungil dikelilingi oleh alam pedesaan yang unik, letaknya dekat di sebuah Wihara.

Air panas Banjar terletak di desa Banjar, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng. Jarak tempuhnya 1,5 Km dari pertigaan Banjar atau 24 Km dari kota Singaraja. Untuk mencapai lokasi air panas Banjar dapat di gunakan kendaraan bermotor karena jalannya beraspal. Penginapan atau akomodasi yang paling dekat adalah hotel dan restoran yang paling banyak terdapat di kawasan Lovina. Kendaraan umum banyak karena melalui jalan raya yang menghubungkan kota Singaraja dengan kota-kota kecamatan di bagian barat.

Sumber mata air panas ini di perkirakan berumur ratusan tahun, dan sejak pendudukan Jepang sumber air panas ini telah di benahi dan di manfaatkan. Pemerintah Jepang membangun tiga buah kolam penampungan air untuk berendam, sebab berendam dalam air panas yang mengandung belerang akan bisa menyembukan penyakit kulit. Oleh Jepang di bangun juga tempat peristirahatan perwira militernya. Permandian yang di bangun pemerintah Jepang ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Disamping untuk berendam, wisatawan dapat berenang dalam kolam air panas, serta jatuhnya air pancuran di tubuhnya yang seoalah-olah sedang memijat tubuh kita, terutama kolam yang dilengkapi dengan pancuran setinggi 3,5 meter, sehingga dapat mengakibatkan kondisi badan menjadi lebih segar.

Air panas Banjar kemudian semakin dikenal untuk dikunjungi wisatawan Nusantara dan Mancanegara. Untuk mengelola obyek wisatawan ala mini maka dibentuklah sebuah yayasan yaitu “yayasan yeh panes nirmala” pada tanggal 12 juni 1984

Minggu, 24 Oktober 2010

Perjalanan Wisata Keluarga Mbak Henny-Jambi












Selamat datang di Pulau Dewata-Bali, kepada keluarga mbak Henny yang tiba pada tanggal 23 oktober 2010 kira-kira pukul 22.20 waktu bali, dengan pesawat Batavia yang langsung menuju hotel sekitar Kuta yaitu Palm Beach Hotel. Hotel yang letaknya cukup strategis yang sangat dekat sekali denagn airport dan dan juga sangat dekat dengan pantai.

Hari kedua rombongan selepas makan pagi di hotel, langsung menuju tempat tarian Barong yang ada di daerah Suwung kauh, selam satu jam, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Benoa untuk rekreasi air. lalu rombongan menuju ke obyek wisata berikutnya yaitu GWK (Garuda Wisnu Kencana) serta sekaligus makan siang, dan perjalanan dilanjukan ke tempat perbelanjaan oleh-oleh bali Kampung Nusantara dan setelah itu jam sudah menunjukan pukul 4 sore, rombongan menuju ke Pura Tanah Lot untuk menyaksikan sunset di sini, kira-kira pukul 6 sore rombongan menuju arah kuta dan makan malam di salah satu rumah makan di daerah kerobokan. sekalanjutnya kembali ke hotel.

Hari ke tiga, rombongan berangkat dari hotel sekitar pukul 08.30 dengan mengambil program Kintamani tour, adapun saat itu rombongan ini memulai dengan melihat keindahan alam melalui bermacam-macam burung dan juga reptil yang ada di Bali Bird Park, singapadu-Batubulan, kecamatan Gianyar.
Dan rombongan juga menyaksikan kelucuan dari prilaku para kera yang ada di Mongkey Forest Ubud setelah itu menuju tempat makan siang di Ibu Oka, dan selanjutnya kami langsung menuju ke Kintamani untuk menyaksikan salah satu keindahan alam Gunung Batur dan danau Batur yang ada di Penelokan, kabupaten Bangli.

Karena pulau Bali tidak terlepas dengan keberadaan pura-pura yang ada bertebaran di banyak tempat, rombongan juga sempat melihat obyek pura Tirta Empul dan Pura Goa Gajah.
Setelah itu rombongan menuju ke salah satu restoran yang ada di Ubud yaitu Bebek Tepi Sawah restorant, dan perjalanan tourpun selesai dan sekitar pukul 19.00 rombongan kembali ke hotel.

Dan keesokan harinya, rombongan menuju ke bandara, untuk kembali ke Jambi mengambil pesawat pagi. Demikian sekilas perjalanan keluarga Mbak Henny dan keluarga.

Terima Kasih,

Untuk Mbak Henny dan Keluarga, saya Wayan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mengunjungi Pulau Bali dan sudah mempercayakan saya selaku pemandu anda selama di Bali. Walaupun perjalanannya singkat namun maknanya yang terpenting. Dan harapan saya mudah-mudahan di waktu-waktu yang akan datang bisa ada kesempatan berjumpa kembali, dan saya selaku pemandu anda tak lupa memohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan dalam pelayanan saya kepada Mbak Henny sekeluarga.

Apakah mungkin ada kritik dan saran anda? silahkan di kolom komentar!!!

Sabtu, 23 Oktober 2010

Jati Luwih



Jati Luwih kalau di artikan kata-katanya berasal dari kata "Jati" dan "Luwih". Jati atau "Sujati" yang artinya bisa dikatakan "benar-benar" Luwih artinya "bagus/cantik", jadi Jati Luwih bisa di artikan "benar-benar bagus/cantik". Nama Jati Luwih yang di sandang oleh daerah tersebut memang bisa di katakan tepat. Karena pemandangan alam sawahnya yang begitu indah dan memukau para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Alam persawahan yang ada di Jati Luwih dapat di katakan tiada duanya di jagat raya ini, karena posisi sawah yang berundag-undag, seolah-olah kita seperti melihat anak tangga di saat kita menaiki bangunan tinggi atau pura besar dan pura yang posisinya di puncak gunung seperti gunung Lempuyang.

Persawahan yang ada di Jati Luwih dikelilingi oleh pegunungan dan menambah elok lagi pemandangan yang ada di sana. Lokasi persawahan jati Luwih, terletak pada ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut, cukup lumayan sejuk dengan kondisi seperti itu.
Dengan sarana infrastruktur jalan yang sudah beraspal, jauh lebih bagus di bandingkan tahun-tahun sebelumnya seperti sekitar tahun 1990 an kondisi jalan menuju obyek wisata Jati Luwih di kategorikan rusak parah, kondisinya berkrikil yang sangat tajam, kendaraan yang melintas untuk mengantar wisatawan saat itu harus berhati-hati demi untuk menjaga keselamatan semua.

disamping jalan sudah sangat memadai, juga di dukung oleh adanya rumah makan, juga warung-warung kopi dan minuman dingin sangat mendukung sekali saat kehadiran wisatawan sambil menikmati hidangan atau minuman dengan di manjakan oleh pemandangan sawah yang sangat menakjubkan. yang sudah barang tentu akan mengurangi bahkan menghilangkan stress yang selama ini membelenggu pikiran para pengunjung.

Jaraknya kalau kita tempuh dari kota Denpasar sebagai ibukota pulau Bali sekitar 49 Km, dari kota Tabanan kurang lebih 26 Km. Dan biasanya untuk melihat obyek wisata Jati luwih, bisa di kombinasikan dengan obyek wisata yang lainnya seperti Pura Taman Ayun, obyek wisata Bedugul (danaunya yang indah), Agrotourism, Taman Kupu-kupu serta obyek wisata Tanah Lot yang terkenal dengan pemandangan sunset dan lautnya yang begitu menakjubkan.

Apakah anda merasa penasaran? hubungi 087861180017,081337485888,yanlandung@yahoo.com

Selasa, 12 Oktober 2010

LOVINA



Kawasan wisata Lovina merupakan kawasan wisata pantai dengan daya tarik utamanya pantai dan air laut yang tenang, pasir berwarna kehitam-hitaman, karang laut dengan ikan-ikannya. karena sifat lautnya yang tenang, Lovina sangat cocok untuk rekreasi air seperti menyelam, snorkling, berenang, memancing, berlayar, mendayung atau sekedar berendam di air laut. Disamping daya tarik di atas, ada juga ikan lumba-lumba (dolphin) dalam habitat aslinya. Ikan lumba-lumba ini dalam jumlah ratusan dapat dilihat di pagi hari kurang lebih 1 Km lepas pantai. Ikan lumba-lumba yang menyelam, melompat di atas permukaan air dengan pemandangan untaian gunung di sebelah selatannya, langit memerah menandakan akan terbitnya matahari, merupakan daya tarik yang sangat memikat. Tidak kalah menariknya adalah jika wisatawan sempat menyaksikan matahari terbenam di sini.

Kawasan Lovina juga di tunjang oleh banyaknya daya tarik wisata di sekitarnya yang mudah di capai dari lokasi ini. Daya tarik wisata di sekitar Lovina antara lain; Air panas Banjar, Wihara Budha, Air Terjun Gitgit dan beberapa desa yang ada di sekitar lokasi.

Secara resmi kawasan ini disebut kawasan Kalibukbuk, namun lebih dikenal dengan kawasan wisata Lovina. Kawasan ini terdiri dari 2 kecamatan, yaitu desa Pemaron dan desa Tukad Mungga, desa anturan dan desa Kalibukbuk masuk dalam kecamatan buleleng, sedangkan desa Kaliasem dan desa Temukus masuk dalam kecamatan Banjar- kedua-duanya masuk dalam kabupaten Buleleng.

Desa yang terletak paling timur yaitu desa Pemaron,5 Km barat Singaraja, dan desa yang paling barat Singaraja, dan desa yang paling barat yaitu desa Temukus 12 Km barat Singaraja. Pusat kegiatan kawasan Lovina terletak 10 Km dari kota Singaraja.

Kawasan Lovina sementara ini menjadi pusat tersedianya fasilitas kepariwisataan di kabupaten Buleleng yaitu berupa akomodasi baik berupa hotel bintang, hotel Melati, pondok wisata maupun home stay, rumah makan, toko cendramata, transportasi dan fasilitas penunjang lainnya.

Sebagai kawasan wisata dan pusat pariwisata di Buleleng, Lovina mendapat kunjungan yang terbesar dari wisatawan yang berkunjung ke kabupaten ini. Diperkirakan 9% wisatawan yang berkunjung ke Buleleng menginap di Lovina.

Tidak ada bukti-bukti atau sumber yang jelas mengenai asal-usul nama Lovina. Berdasarkan keterangan putra-putra almarhum Anak Agung Panji Tisna, keturunan Raja Buleleng dan sastrawan yang terkenal, nama Lovina diberikan oleh almarhum atas suatu tempat milik almarhum yang terletak di desa Kaliasem, dimana untuk pertama kali beliau membangun bungalow sebagai tempat peristirahatan. Konon nama Lovina diambil dari nama hotel kecil di India yaitu "Lafeina" dimana beliau menginap dan menulis buku dengan judul Ni Ketut Widhi, yang kemudian buku ini di terjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Untuk mengenang nama hotel tersebut maka tanah milik beliau diberi nama Lovina. Tetapi ada juga versi lain, nama Lovina di beri karena ada pohon santen yang di tanam oleh putra beliau yang kemudia tumbuh saling berpelukan. Dalam hal ini Lovina yang berasal dari bahasa latin artinya saling mengasihi atau menyanyangi. Nama Lovina kemudian oleh Bupati Buleleng , Drs I ketut Ginantra, selama masa jabatannya dari tahun 1988 sampai 1993, di artikan sebagai singkatan dari "Love" dan "Ina" yang di artikan sebagai "Cinta Indonesia"

AIR TERJUN GITGIT


Air terjun Gitgit merupakan objek wisata yang sangat indah. Air terjun ini terletak di bebukitan dengan ketinggian kurang lebih 35 meter dan di penuhi dengan aneka ragam vegetasi menguak dan mengalirlah air terjun secara alami dengan debit konstan sepanjang tahun. Gemuruh air terjun disekitar keheningan alam yang mempesona merupakan atraksi tersendiri dan dapat di nikmati oleh setiap pengunjung. Kekaguman dari keadaan alam yang seperti ini, membuat imajinasi dan perspektif batin kita menyatu dengan kebesaran alam. Di sekitar air terjun terdapat beberapa perkebunan dan hutan lindung. Pada daerah ini juga sering di jumpai kera liar.

Objek wisata semacam ini menjadi unik dan penuh dengan daya tarik karena alamnya yang mempesona, yang di bentuk oleh hijau segarnya tanaman, gemuruh terjunnya air, beningnya air disela-sela bebatuan yang bertebaran, serta sesekali diselingi kicauan burung, sehingga sangat ideal untuk mandi, berendam di daerah terbuka alami. Pandangan lepas ke daerah aliran sungai, menggambarkan koridor yang alami yang di bentuk dari ragam tanaman, hamparan bebatuan, sehingga menciptakan citra alur tersendiri dari keberadaannya.

Lokasi air terjun Gitgit terletak di desa Gitgit, kecamatan Sukasada, pada jarak sekitar 10 Km dari kota Singaraja atau sekitar 70 Km dari kota Denpasar, pada ketinggian sekitar 300 meter dari atas permukaan laut.

Objek wisata ini merupakan satu daerah pencapaian dengan monumen perjuangan Wira Bhuana Pangkung Bangka. Monumen ini berwujud tugu dan patung aksi perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Monumen ini terletak di desa Gitgit, kecamatan Sukasada, pada jarak kurang lebih 17 Km dari kota Singaraja, lokasinya diapit oleh tebing dan jurang yang terjal. Jurangnya yang terjal disebut "Pangkung Bangka".
Daerahnya berada pada ketinggian kurang lebih 600 meter. Di kanan kirinya terdapat kebun kopi serta cengkeh yang subur.

Fasilitas di objek wisata Gitgit ini terdiri dari parkir, restoran, dan kios souvenir. Dan tidak jauh dari tempat air terjun merupakan tempat istirahat sambil menikmati keindahan panorama perkebunan,teras siring persawahan, dan pantai Buleleng.

Kunjungan ke objek wisata ini di lakukan sepanjang hari dari pagi sampai sore, baik bagi masyarakat setempat, wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Dari jalan raya menuju objek air terjun, para pengunjung akan di ajak berjalan kaki pada jalan setapak sepanjang 700 meter yang dapat di tempuh selama kurang lebih 10-15 menit. Jalan setapak berada diantara persawahan, perkebunan dan daerah aliran sungai penuh dengan panorama yang terbentuk secara alami,selaras,dan indah.

Air terjun Gitgit sudah dikenal sejak jaman Belanda. Orang Belanda sendiri banyak mempergunakan tempat ini sebagai objek rekreasi. Setelah perang kemerdekaan, sekitar tahun 1975, objek ini di hidupkan sebagai objek wisata.

Sebagaimana di ketahui, alam pulau Bali terbelah oleh gunung dan pegunungan di tengah-tengah pulau ini. Pada daerah ketinggian posisi pertama menuju daerah Singaraja diawali oleh desa Gitgit. Jadi bisa dikatakan bahwa, objek wisata Gitgit merupakan pintu gerbang objek wisata di kabupaten Buleleng. Secara kebetulan bahwa hampir 80% objek wisata di kabupaten Buleleng adalah wisata tirta/air seperti; Air terjun Gitgit, air panas Banyu Wedang, air panas Banjar, dan Air Sanih.

Memasuki objek wisata Gitgit, dari ketinggian di sekitar batas jalan pintu masuk menuju ke lembah sungai dan akhirnya turis dapat menikmati air terjun di sela pegunungan. Keadaan semacam ini dapat di kategorikan sebagai "Natural Sunken Garden".

Sesuatu yang alami,asri,orisinil,adalah suatu rekreasi yang alami, akan memulihkan kenangan komplit yang terjadi dan menciptakan kembali kesegaran-kesegaran baru untuk dapat dipindahkan dalam melaksanakan kehidupan dan perikehidupan selanjutnya. Dengan demikian, filsafat ketimuran yang selalu ingin menyesuaikan diri dengan alam akan dapat dinikmati pada objek wisata ini.

Untuk informasi tour segera hubungi I wayan Suyadnya Yasa (Yasa) di +62 (0) 81.337.485.888, +62 (0) 87.8611.800.17, e-mail: yanlandung@yahoo.com, gmail: wyansa@gmail.com, FB: wayan suyadnya yasa

Minggu, 10 Oktober 2010

UCAPAN TERIMA KASIH





Terima kasi saya kepada Bapak Tony Lie dan Mbak Dessy yang sudah berkunjung ke Pulau Bali dan lagi...lagi memberikan kepercayaan kepada saya untuk menghandle/ melayani bapak Tony serta Mbak Dessy selama ada di pulau Bali.

Juga untuk Mbak Dessy yang sudah sekian kali ke Pulau Bali, dan kesempatan yang sangat baik juga karena saya baru pertama kali mengantar Mbak Dessy jalan-jalan di pulau Bali. Semoga perjalanan kali ini ada maknanya yang pasti.

Perjalanan kami dari hotel, kira-kira pukul 08.00 dan langsung menuju warung Satria, sebenarnya Pak Tony pingin merasakan nikmatnya masakan warung Liku dan juga bliau ingin mmperkenalkan masakan Ayam betutu kepada mbak Dessy namun tidak kesampean gara-gara warung Likunya tutup, saat itu memang di Bali sedang merayakan salah satu hari raya Tumpek Landep (hari dimana umat Hindhu menghaturkan sujud dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa)karena telah menciptakan alat-alat yang bahannya dari besi, seperti; ada keris, tombak,mobil dan lain-lain yang menyangkut bahannya besi dan alat tersebut membantu manusia untuk menjalankan kehidupannya di alam semesta ini.

Dan kami juga mampir di satu tempat yang tidak kalah menariknya, yaitu Galuh artshop, yang menjual barang-barang souvenir dengan berbagai koleksinya dan batik salah satunya.

Dan kami juga mampir ke kawasan wisata seni Celuk, yang di kenal dengan pengerajin emas dan peraknya.Setelah itu saya dan Pak Tony menikmati hidangan sate babi yang ada di desa Mengwi, menuju arah ke Bedugul wah luar biasa aroma dan rasa dari hidangan tersebut dengan kombinasi ada lontong,2 jenis sambal dan supnya dan di tambah es kelapa muda. Dan setelah itu langsung menuju Temen Joger yang ada di desa Luwus, dengan seni pabrik kata-kata. wah...belanja banyak nich!

Tidak lupa juga kita bersantai ria dan sambil ambil beberapa foto di Jati Luwih, obyek persawahan yang sangat luar biasa indahnya dengan bentuk teras siring sawahnya dan tanaman padi yang hijau saat itu, menambah suasana sejuk di mata. Walaupun sempat ada sengatan sinar matahari dan juga dari panas aspal tapi segera berakhir dengan turunnya hujan gerimis dan kami langsung melanjutkan perjalan ke satu tempat makan yang ada di Padang Galak Sanur dengan menu bebek goreng (mbak Dessy gimana komentarnya?)

Dan Dreamland adalah tujuan kami selanjutnya, dengan hamparan pasir putih dan deruan ombak yang sangat mendukung sekali para surfer untuk melakukan atraksi melompat-lompat dengan surfing boardnya mereka. Dan pak Tony juga berenang lho! tapi mbak Dessy tidak ada persiapan sepertinya.

Lantas kami menuju ke arah kuta untuk membeli beberapa oleh-oleh makanan,kacang-kacangan dan selanjutnya ke warung Bu Tinuk, dan balik ke hotel.

Itu perjalanan sehari penuh bapak tony dan Mbak Dessy yang pasti tetap ada kesan, gimana pak Tony dan Mbak Dessy komentarnya?