Kamis, 31 Maret 2011

Pura Taman Ayun


Pura Taman Ayun terletak di Desa Mengwi kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, provinsi Bali. Oleh I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar Ida Cokorda Sakti Blambangan, maka di bangunlah pura ini oleh beliau pada tahun 1634 M. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan kuat yang ada di Bali hingga bertahan sampai tahun 1891. Pura ini dijadikan untuk tempat persembahyangan bagi keluarga raja dan pengikutnya dan Pura Taman Ayun berkiblat pada Gunung Batukaru. Sedangkan pada umumnya pura-pura yang ada berkiblat ke Gunung Agung.

Pura Taman Ayun berasal dari kata "Taman" yang artinya KEBUN, dan "Ayum atau Ayu" yang artinya CANTIK atau MOLEK, yang merupakan kata-kata dari Bahasa Bali. Dengan terdiri dari tiga pelataran atau halaman yang pada umumnya pura yang ada di sekitar Pulau Bali, yaitu JABA SISI= Pelataran yang paling luar, JABA TENGAH= Pelataran yang letaknya ditengah, dan JEROAN= Adalah tempat beristananya Tuhan dan para Dewa-Dewi, yang merupakan tempat bersembahyang bagi umat Hindhu atau "Pemedek". Dengan penataan Taman yang indah terletak di pelataran paling luar dengan beragam tumbuh-tumbuhan bunga dan rerumputan merupakan pelataran yang sangat asri untuk bermain bagi anak-anak para pengunjung dan juga untuk melepas lelah bagi yang akan sembahyang di Pura Taman Ayun.

Komplek bangunan yang religius ini memiliki luas sekitar 4 hektare dengan dikelilingi oleh kolam atau semacam parit, sehingga seolah-olah kalau pura di lihat dari atas keliahatan seperti pura mengapung. Kolam dengan di tumbuhi pohon lotus dengan bunganya yang begitu indah, membawa daya tarik yang lebih bagi para pengunjung.
Terdapat ruang terbuka yang digunakan sebagai tempat kegiatan religius dan sebagai tempat atau panggung kesenian. Komplek pura yang paling utara atau Jeroan, para pengunjung dapat menikmati indahnya Meru-Meru yang berjejer tersusun rapi yaitu Pagoda yang memiliki atap bertingkat-tingkat, bangunan berikutnya adalah bangunan utama bernama Bale Pelik merupakan sebuah gedung. Gedong Bale Pelik dihiasi dengan ukiran-ukiran,relief serta patung Dewa Nawa Sanga yang sangat menarik dan terasa religiusnya. Sedangkan bagian lainnya merupakan bangunan-bangunan yang diperuntukan bagi para Dewa dan Dewi yang disucikan dalam Agama Hindhu. Pura ini sempat di pugar pada tahun 1937 dan setiap harinya di kunjungi 300-600 wisatawan luar dan dalam negeri.

Adapun keistimewaan dari Pura Taman Ayun, diusulkan oleh Pemerintah Indonesia untuk menjadi situs dunia ( World Heritage ). Dan pada tanggal 12 maret 2008 yang lalu, Dirjen UNESCO Kokhiro Matsuura. Pura ini dianggap memiliki nilai sejarah, religi, dan cita rasa seni yang tinggi.

Walaupun Pura ini merupakan warisan budaya, tetapi pura ini masih di pakai untuk tempat bersembahyang sampai saat ini. Para wisatawan dapat menikmati indahnya pura yang hampir berumur 400 tahun, dengan pepohonan dan bunga-bungan yang indah, wisatawan akan merasa betah dan sangat menikmati indahnya bangunan pura Taman Ayun ini. Diseberang pura terdapat Museum Manusa Yadnya, yaitu museum yang memamerkan siklus kehidupan manusia baik dari dalam kandungan sampai meninggal.

Demikian sekilas tentang Pura Taman Ayun, semoga ada manfaatnya bagi yang membaca. Dan artikel ini juga berasal dari beberapa sumber yang sudah tentu kalau ada yang keliru saya mohon maaf, dan peran serta pembaca juga saya harapkan komentarnya.

Kamis, 24 Februari 2011

Ogoh-Ogoh




Hari Raya Nyepi sudah dekat, yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 maret 2011. Para umat Hindhu juga sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya berupa OGOH-OGOH yang akan di arak pada hari jum'at tanggal 4 maret 2011. Seperti perayaan hari Raya Nyepi sebelumnya, ini akan selalu meriah saat Ogoh-Ogoh di arak mengitari jalan-jalan di sekitarnya kampung, bahkan kota yang ada di Bali.

Tanggtal 4 maret 2011 merupakan bulan mati atau di sebut dengan TILEM di Bali yaitu tilem sasih Kesanga: Upacara taur agung kesanga, merupakan upacara pembersihan Buana Agung (Dunia) dengan segala isinya dapat juga di artikan sebagai upacara tutup tahun saka.

Tawur Kesanga, Hari Pasucian Para Dewa Bhatara terutama Ida Sang Hyang Widhi yang berada di pusatnya samudera dengan membawa Tirta Amerta Kamandalu. Umat mengadakan upacara pembersihan seluruh alam yang di adakan semua tingkat.

Nah, pada tanggal 5 maret 2011, di laksanakan NYEPI (Sipeng), hari ini umat Hindhu mengadakan berata penyepian dan semadi, mengheningkan pikiran untuk dapat menerima ilham-ilham dan petunjuk Hyang Widhi Wasa, agar di hari-hari berikutnya dapat melaksanakan perbuatan yang lebih baik.

Bagaimana dengan anda? sudahkah berbuat baik hari ini?

Rabu, 23 Februari 2011

Pura Gunung Kawi


Hanya beberapa kilometer dari kawasan wisata Istana Negara Tampak Siring dan Pura Tirta Empul, kita akan melanjutkan jalan-jalan sekaligus photo-photo di objek wisata penuh nilai historis dan spiritual, Pura Gunung Kawi.

Objek wisata ini dapat ditempuh kira-kira 60 menit dari Kuta atau kira-kira 45 menit dari Denpasar. Dengan situasi lalu lintas yang semakin bertambah banyak dan padat khususnya daerah Kuta, Denpasar kota, Nusa Dua dan Sanur, sudah tentu sangat sulit kita bisa memperkirakan waktu tempuh menuju obyek wisata ini.

Dari artikulasi dapat diuraikan menjadi 2 (dua), yaitu gunung yang berarti tempat yang tinggi, bukit atau tebing dan Kawi berarti kekawin atau sesuatu yang dibuat . Jadi pura Gunung Kawi adalah pura yang dibangun di tebing di sebelah barat sebuah pegunungan dimana pegunungan itu sekarang dikenal dengan nama desa Sebatu.

Sebatu berasal dari urat kata sauh berati terpeleset dan batu berarti batu atau bebatuan. Konon pada jaman pemerintahan raja Mayadenawa yang sangat bengis dan tidak percaya adanya Tuhan, daerah ini merupakan lintasan pelarian Raja Mayadenawa dengan para pengikutnya menuju desa Taro, setelah terdesak dalam peperangan melawan para dewata yang mengejarnya, begitu pula ketakutan para penduduk asli kepada pengikut raja Mayadenawa, sehingga semuanya lari tunggang langgang dan terpeleset diantara bebatuan pegunungan (Sauh di batu). Sadar akan penduduk asli yang tidak berdosa dalam bahaya, maka dewa Wisnu memberikan sumber kehidupan bagi penduduk yang tidak berdosa dalam wujud air suci.

Sebagai ucapan rasa syukur penduduk, maka ditempat ini dibangun pura tempat pemujaan dewa Wisnu yang dikenal dengan nama Pura Gunung Kawi yang dilengkapi dengan pancuran-pancuran beraneka ragam fungsi seperti untuk air suci, mandi dan lain-lain.

Sabtu, 19 Februari 2011

Pura Tirta Empul



Pura Tirta Empul merupakan salah satu pura yang sangat penting dan merupakan obyek wisata yang sangat menarik dan banyak di kunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik/ lokal maupun wisatawan mancanegara.

Adalah sebuah pura yang terletak di desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Letaknya sangat strategis dan bersebelahan dengan Istana Presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Bapak Ir.Soekarno.

Nama Tirta Empul berasal dari kata "tirta" yang artinya "Air Suci", dan kata "Empul" yang artinya "Mata Air". Jadi kalau di artikan adalah "Mata Air Yang Disucikan" oleh umat Hindhu dan umat Hindhu bahkan yang bukan umat Hindhu pun datang ke Pura ini untuk melaksanakn "Melukat" atau pembersihan diri baik jiwa dan raga.

Konon terdapat sebuah cerita tentang seorang raja yang bernama Mayadenawa, Mayadenawa sangat sakti tetapi jahat. Bhatara Indra pun diutus dari langit untuk membunuh Mayadenawa. Mayadenawa kewalahan lalu melarikan diri dengan berjalan sambil memiringkan telapak kakinya agar tidak terdengar oleh Bhatara Indra. Dari sanalah kemudian muncul nama sebuah desa Tampak Siring. Mayadenawa kemudian meracuni pasukan Bhatara Indra dengan air yang sudah diracuni, Bhatara Indra lalu menancapkan sebuah keris ke tanah dan tersembur air yang dijadikan penangkal racun Mayadenawa. Konon sumber air itulah yang kini disebut Tirta Empul.

Kalau kita mengadakan perjalanan wisata ke daerah Kintamani yang terkenal dengan pemandangan danau dan gunungnya yang indah, sebelumnya kita akan melintasi jalan yang sama dengan lokasi pura Tirta Empul. Bisa di katakan program kunjungan ke pura ini tidak terlepas dengan kunjungan ke Kintamani.

Tentang Tampaksiring.

Diperkirakan nama Tampaksiring berasal dari (bahasa Bali) kata tampak yang berarti "telapak" dan siring yang bermakna "miring". Makna dari kedua kata itu konon terkait dengan sepotong legenda yang tersurat dan tersirat pada sebuah daun lontar, yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari bekas jejak telapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.

Nah...tunggu apalagi,, dan jangan berpikir panjang untuk mengunjungi Desa Tampaksiring yang terdapat Pura Tirta Empul dan bangunan-bangunan yang disucikan oleh umat Hindhu dan kalau berniat untuk melaksanakan pembersihan diri, kenapa tidak! siapa saja bisa. Dan khususnya bagi kaum hawa yang sudah meningkat gede dan sudah mengalami proses mentruasi, mohon maaf kalau lagi sedang haid/mentruasi dilarang untuk masuk atau mengunjungi pura, karena dalam periode tersebut kaum hawa yang sedang aid akan dapat menodai kesucian pura.

itu sekilas tentang pura Tirta Empul dan semoga bermanfaat bagi para pembaca dan selamat berkunjung dan menikmati hari-hari yang berbahagia.

Kalau ada yang ingin berkomentar silahkan! dan mohon maaf kalau ada kekeliruan.

Rabu, 08 Desember 2010

Pura Goa Gajah dan Toleransi Umat Beragama





Di Pura Goa Gajah ada tiga tipe bangunan keagamaan yang berbeda-beda. Ada bangunan keagamaan Hindu pada saat berkembangnya Hindu Siwa Pasupati. Dengan bukti-bukti adanya Arca Tiga Lingga yang masing-masing Lingga dikelilingi oleh delapan Lingga kecil-kecil. Ada bangunan keagamaan yang bercorak Siwa Siddhanta dengan adanya pelinggih-pelinggih di sebelah timur agak keselatan dari Goa Gajah. Di samping itu ada bangunan keagamaan Buddha yang bercorak Buddha Mahayana. Apa dan bagaimana konsep dan misi pembangunan Pura Goa Gajah tersebut?
TIGA bentuk bangunan keagamaan di Pura Goa Gajah ini sungguh sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan di zaman modern dengan teknologi hidup yang serba canggih. Yang patut dikaji adalah sikap toleransi leluhur orang Bali pada zaman lampau itu. Agama Hindu sekte Siwa Pasupati memang ada perbedaannya dengan agama Hindu Siwa Siddhanta. Tetapi substansi keagamaan Hindu tersebut adalah sama bersumber pada Weda. Hakikat sejarah munculnya agama Buddha pun berasal dari proses pengamalan ajaran suci Weda. Ajaran Hindu Siwa Pasupata menekankan pada arah beragama ke dalam diri sendiri. Arah beragama Hindu itu ada dua yaitu Niwrti Marga dan Prawrti Marga. Niwrti Marga adalah arah beragama dengan memprioritaskan penguatan hati nurani, sedangkan Hindu Siwa Siddhanta lebih menekankan pada Prawrti Marga dengan orientasi beragama ke luar diri. Namun bukan berarti tidak menggunakan cara Niwrti. Hanya perbedaan pada penekanannya saja.

Cara Niwrti ditempuh untuk mencapai keadaan yang Pasupata. Pasu artinya hawa nafsu kebinatangan. Sedangkan kata Pata berasal dari kata Pati artinya Raja atau penguasa. Pasupata atau Pasupati artinya proses pemujaan Tuhan untuk dapat menguasai nafsu yang identik dengan sifat-sifat hewan. Barang siapa yang mampu menguasai nafsu yang identik dengan sifat-sifat hewan itu dialah yang akan dapat mencapai Siwa secara bertahap seperti yang dinyatakan dalam Wrehaspati Tattwa 50. Kalau sudah dapat menguasai diri sendiri maka proses hidup selanjutnya akan lebih lancar dalam menempuh cara Prawrti Marga.

Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. Bedanya hanya penekanannya saja. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Di Pura Goa Gajah, kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu.

Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda. Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi.

Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya.

Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. Artinya, perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa, di mana pun dan kapan pun. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini.

Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas dan Carwakas. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut.

Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indah-indah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.

Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Suara hati nurani adalah suara Atman. Atman adalah bagian dari Brahman. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Itulah Samadhi. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu.

Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa Siddhanta. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala.

Keberadaan ciptaan Tuhan ini memang Sama Beda. Namun yang penting adalah bagaimana cara memposisikan persamaan dan perbedaan tersebut. Kalau persamaan dan perbedaan itu dimanajemen dengan baik maka semuanya akan lebih produktif mendambakan hidup rukun dan damai mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera berdasarkan kebenaran dan kesucian.

Umat Hindu khususnya dan umat beragama pada umumnya ada baiknya kita kembali renungkan berbagai warisan keagamaan yang berada di Pura Goa Gajah itu.

Kerukunan dan toleransi untuk saling menghargai eksistensi pihak lain yang berbeda sangat jelas tercermin di Pura Goa Gajah. Ke depan umat Hindu harus lebih berpendidikan kalau dibandingkan dengan umat di masa lampau. Seyogianya umat Hindu dewasa ini lebih mampu menunjukkan kelebihannya dalam mengelola perbedaan. Janganlah justru terbalik justru perbedaan dijadikan ajang untuk saling bermusuhan.

wiana Tri Purusa di Goa Gajah

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhka. Sadasiwa Tattwa ngaranya tan pawwit tanpa tungtung. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan tan wenang winastwan ikang sukha, salah linaksanan.
(Wrehaspati Tattwa.50).

Maksudnya:
Tujuan Siwa Tattwa mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Paramasiwa Tattwa adalah kebahagiaan yang bersifat niskala, tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak benar bila diberi ciri-ciri.

Di Pura Goa Gajah terdapat ceruk di mana di dalam salah satu ceruknya di arah timur goa terdapat tiga buah Lingga berjejer dalam satu lapik. Masing-masing Lingga di kelilingi oleh depalan Lingga kecil-kecil. Dalam tradisi Hindu Lingga itu adalah bangunan suci simbol pemujaan pada Dewa Siwa sebagai salah satu manifestasi Tuhan. Tiga Lingga ini mungkin sebagai salah satu peninggalan Hindu dari sekte Siwa Pasupata.

Tiga Lingga itu sebagai simbol sakral sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa. Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa itu dalam fungsinya sebagai jiwa agung alam semesta. Siwa sebagai jiwa Bhur Loka. Sada Siwa sebagai jiwa agung Bhuwah Loka dan Parama Siwa sebagai jiwa Swah Loka. Tujuan pemujaan Tuhan sebagai Siwa jiwa agung Bhur Loka adalah untuk mencapai suka tanpa wali duhkha. Sebagai Sada Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tiada berpangkal dan tiada berujung. Sebagai Parama Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang bersifat niskala yang tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak mungkin diberikan ciri-cirinya. Demikian dinyatakan dalam pustaka suci Wrehaspati Tattwa.

Masing-masing Lingga dikelilingi oleh delapan Lingga kecil-kecil itu sebagai simbol delapan dewa di delapan penjuru dari masing-masing bhuwana tersebut. Delapan dewa itu disebut Astadipalaka, artinya delapan kemahakuasaan Tuhan sebagai pelindung seluruh penjuru alam. Memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa bertujuan untuk menguatkan jiwa untuk mencapai kesuksesan hidup di Tri Bhuwana.

Delapan dewa di masing-masing bhuwana itu adalah sebagai dewa manifestasi dari Siwa. Dalam buku Penuntun ke Objek-objek Purbakala oleh Prof. Drs. I Gst. Gde Ardana dinyatakan tiga Lingga di Pura Goa Gajah itu ada yang menduga sebagai simbol pemujaan Tri Murti. Dugaan itu sepertinya kurang nyambung dengan konsep pantheon Hindu.

Pura Goa Gajah itu terletak di Desa Bedaulu Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Pura ini memiliki banyak peninggalan purbakala. Karena itu pura ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing maupun domestik. Pura ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Ada bangunan-bangunan suci Hindu yang amat tua sekitar abad ke-10 Masehi. Ada bangunan suci Hindu berupa pelinggih-pelinggih yang dibangun setelah abad tersebut. Sedangkan yang ketiga ada bangunan peninggalan agama Buddha yang diperkirakan oleh para ahli sudah ada sekitar abad ke-8 Masehi sezaman dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Di ceruk bagian timur goa terdapat tiga Lingga besar berjejer di atas satu lapik, sedangkan di bagian baratnya terdapat arca Ganesa di goa berbentuk T. Jadinya di bagian hulu atau keluwan goa ada tiga Lingga simbol Siwa atau Sang Hyang Tri Purusa. Sedangkan di bagian teben adalah arca Ganesa yaitu putra Siwa dalam sistem pantheon Hindu. Karena adanya arca Ganesa inilah menurut Miguel Covarrubias goa ini bernama Goa Gajah.

Fungsi Dewa Ganesa dalam sistem pemujaan Hindu adalah sebagai Wighna-ghna Dewa dan sebagai Dewa Winayaka. Wighna artinya halangan atau tantangan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewa Ganesa adalah pemujaan untuk mendapatkan tuntunan spiritual agar memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai halangan atau tantangan hidup. Ganesa dipuja sebagai Dewa Winayaka adalah untuk mendapatkan tuntunan Tuhan dalam mengembangkan hidup yang bijaksana. Kemampuan menghadapi tantangan dan mengembangkan kebijaksanaan ini sebagai langkah awal untuk meraih hidup yang damai dan sejahtera di bumi ini.

Di depan goa terdapat arca Pancuran dalam sebuah kolam permandian sakral yang karena zaman tertimbun tanah. Saat Kriygsman menjabat kepala kantor Prbakala di Bali, maka tahun 1954 permandian itu digali. Di permandian itu terdapat arca Widyadara dan Widyadhari. Arca pancuran ini ada enam buah. Tiga berjejer di bagian utara dan tiga di bagian selatan. Arca bidadari ini diletakkan di atas lapik teratai atau padma. Padma adalah simbol alam semesta stana Hyang Widhi.

Di tengahnya ada arca laki simbol Widyadhara. Enam arca Widyadhari ini mengalirkan air dari pusat arca dan ada yang dari susu arca. Air yang mengalir di kolam itu sebagai simbol kesuburan. Tujuan pemujaan Tuhan dengan simbol Lingga sebagai media untuk memotivasi munculnya kesuburan. Lingga itu dibagi menjadi dua bagian yaitu alasnya disebut Yoni simbol Predana dan yang berdiri tegak di atas yoni itu disebut Lingga. Bagian bawah lingga berbentuk segi empat simbol Brahma Bhaga, di atasnya berbentuk segi delapan simbol Wisnu Bhaga.

Di atas segi delapan berbentuk bulat panjang. Inilah puncaknya sebagai Siwa Bhaga. Dalam upacara pemujaan Lingga ini disiram air atau dengan susu. Air atau susu itu ditampung melalui saluran yoni. Air itulah yang dipercikan ke sawah ladang memohon kesuburan pertanian dan perkebunan.

Arca pancuran itu lambang air mengalir untuk membangun kesuburan pertanian dalam arti luas. Dalam Canakya Nitisastra, air itu dinyatakan salah satu dari tiga Ratna Permata Bumi.

Tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan serta kata-kata bijak sebagai dua Ratna Permata lainnya. Bangunan suci Hindu di Pura Goa Gajah di samping ada bangunan peninggalan Hindu pada zaman eksisnya Hindu Siwa Pasupata pada zaman berikutnya ada pura sebagai pemujaan Hindu pada zaman Hindu Siwa Siddhanta telah berkembang. Karena itu di sebelah timur agak ke selatan Goa Gajah itu ada beberapa pelinggih. Ada Pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung sebagai Pelinggih Pesimpangan Batara di Gunung Agung dan Gunung Batur.

Ada Pelinggih Gedong sebagai pelinggih leluhur para gusti di Bedaulu. Ada pelinggih Ratu Taman sebagai pemujaan Batara Wisnu sebagai dewanya air. Sebagaimana pura pada umumnya terdapat juga beberapa bangunan pelengkap. Seperti pelinggih Pengaruman sebagai tempat sesaji untuk persembahan saat ada upacara, baik upacara piodalan maupun karena ada hari raya Hindu lainnya.

Peninggalan yang lebih kuno dari peninggalan Hindu di Pura Goa Gajah adalah adanya peninggalan agama Buddha. Di luar goa di sebelah baratnya ada arca Buddhis yaitu Dewi Hariti di Bali disebut arca Men Brayut. Arca ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang memangku banyak anak. Dalam mitologi agama Buddha, Hariti ini pada mulanya seorang wanita pemakan daging manusia terutama daging anak-anak. Setelah Hariti ini mempelajari ajaran Sang Budsha, Hariti akhirnya menjadi seorang yang sangat religius dan penyayang anak-anak.

Di sebelah selatan Goa Gajah melalui parit diketemukan arca Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba. Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba ini dalam sistem pantheon Buddha Mahayana sebagai Buddha pelindung arah barat alam semesta. Demikian tiga wajud bangunan keagamaan Hindu dan Buddha di Pura Goa Gajah.

Selasa, 07 Desember 2010

Merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan




Hari ini tanggal 08 Desember 2010 merupakan hari yang sangat istimewa bagi umat Hindhu yang merayakan Hari Raya Galungan. Setelah sehari sebelum Hari Raya Galungan, masyarakat Hindhu khususnya di Pulau Bali menyiapkan diri untuk menyambut Hari Raya Galungan dengan mengadakan prosesi "Penampahan Galungan" yaitu di mana seluruh umat Hindhu menyembelih babi.

Pada umumnya persiapan penampahan sudah di persiapkan jauh hari sebelumnya, dengan membuat semacam kelompok patungan daging babi, artinya seberapa berat/ banyak daging babi sebelum di sembelih, dipastikan untuk di timbang terlebih dahulu, tujuannya untuk mempermudah membagi seberapa jumlah uang yang harus di keluarkan oleh masing-masing orang di dalam kelompok tersebut dengan menyesuaikan harga daging saat hari itu.
Setelah masing-masing mendapatkan bagian, maka masing-masing orang membawa bagiannya dan selanjutnya mengolahnya di rumah mereka, dan juga dalam mengolah daging bagian tersebut,untuk membuat persiapan untuk sesajen yang terkait dengan daging babi.Dan selain daging babi, orang-orang juga menyembelih ayam untuk keperluan sesajen dan di kosumsi juga. Ada yang membuat sate, adonan untuk LAWAR (Sayur ala orang Bali), dan adonan lain-lain masih banyak lagi bisa untuk olahan daging babi atau daging ayam tersebut.

Sehari setelah itu, umat Hindhu mempersiapkan diri untuk melakukan persembahyangan bersama dengan keluarga dengan terlebih dahulu mempersiapkan Upakara atau sesajen yang di perlukan saat Hari Raya Galungan. Terutama para ibu-ibu atau wanitanya sangat sibuk mempersiapkan sesajen tersebut hingga selesai. Unik, Menarik dan penuh dengan aura spiritual saat mempersiapkan dan merayakan Hari Raya Galungan kali ini. Pada pagi hari sebelum melakukan prosesi di masing-masing keluarga, semua Umat Hindhu menghaturkan persembahyangan ke Pura Tri Kahyangan yang ada di masing-masing Desa, seperti Pura Desa/ Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Dan tidak lupa memohon Tirta (Air Suci) yang kumudian kita gunakan untuk prosesi selanjutnya di masing-masing pura keluarga (Merajan keluarga).

Berkumpul dan bersenda gurau dengan keluarga saat Hari Raya Galungan, kita adakan saat sehari setelah kita merayakan Hari Raya Galungan yang di sebut dengan "Manis Galungan". Waktu seperti ini sangat di nanti-nanti oleh para anggota keluarga, karena apalagi tidak semua anggota keluarga berada di tempat kelahirannya, yang sebagian besar mereka ada di tempat rantau atau di kota, sehingga momen semacam inilah digunakan untuk melepas kerinduan dengan anggota keluarga khususnya untuk orang tua yang masih ada dan sanak saudara yang lainnya.

Setelah sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, di sebut dengan Hari Raya Kuningan. Prosesinya tidak jauh berbeda dengan Hari Raya Galungan, merupakan runtutan dari Hari Raya Galungan ( Untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa(Tuhan Yang Maha Esa) serta Para Leluhur).

Itu sekilas tentang salah satu Hari Raya yang ada di Bali atau umat Hindhu, dan masing ada hari raya yang lain yang bisa di baca artikelnya di lain kesempatan.
Dan mungkin bagi para pembaca yang memiliki masukan lain yang positif tentunya bisa di sampaikan pada kolom komentar!!!

Akhirnya; Selamat merayakan Hari Raya Galungan Dan Kuningan bagi yang merayakan, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME)senantiasa menganugerahi kebahagiaan bagi kita semua....

Sabtu, 27 November 2010

Gunung Batur


Gunung Batur (8 derajat 14'30"Lintang selatan,115derajat 22'30"Bujur timur),yang terletak di Kintamani, merupakan gunung api yang masih aktif. Kaldera Batur berbentuk elip dengan sumbu panjang 13,8km dan lebar 10km (kaldera I) dan kaldera lainnya terletak didalamnya berbentuk melingkar dengan garis tengah 7,5km (kaldera II).Kaldera I terbentuk 29.300 tahun yang lalu, sedangkan kaldera II terbentuk 20.150 tahun yang lalu.

Sejak tahun 1800 Gunung Batur sudah meletus sekurang-kurangnya 24 kali. Letusan pertama tercatat tahun 1804, terakhir terjadi bulan juli 2000, dan letusan dengan leleran lava terbanyak tahun 1963, dengan 3 titik leleran. Letusan dasyat dari Gunung Batur ini pertama kali tejadi 29.300 tahun yang lalu, yang menyisakan Gunung Abang (2152m)sebagai sisa kerucut Gunung Api Batur Purba. Letusan besar kedua terjadi 20.150 tahun yang lalu, diikuti dengan pembentukan beberapa krucut dan kubah, seperti Gunung Payang dan Gunung Bumbulan.Amblas ke dua kali membentuk kaldera II dimana kerucut kedua gunung ini (Gunung Payang dan Bumbulan) ikut amblas sampai separonya. Amblas II kalinya kaldera I membentuk undak Kintamani di sebelah barat dan barat laut di dalam kaldera. Kegiatan purna kaldera diawali sekitar 5000 tahun lalu, ditandai pertumbuhan kerucut Gunung Batur hingga kini.

Kegiatan pemantauan aktivitas Gunung Batur dilakukan dari pos Pengamatan yang terletak di kawasan hutan Penelokan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pemantauan dilakukan dengan pengamatan visual dan seismic. Seismograf yang dipasang bersistem pancar radio (radio-teleseismograph) dengan sebuah piranti penangkap gempanya (seismometer) diletakan dilereng sebelah tubuh gunung Batur pada ketinggian kurang lebih 1.350m.

Sisa-sisa lahar yang membeku berwarna hitam, Gunung Batur tegak menjulang, serta danau Batur teduh membiru merupakan suatu daya tarik bagi wisatawan. Pemandangan yang sangat menarik dari penampakkan seluruh gunung batur beserta danaunya dapat dilihat dari tempat ketinggian dari Penelokan.

Wisata mendaki Gunung Batur untuk melihat matahari terbit (sunrise) dari puncak gunung dengan ketinggian 1.717m di atas permukaan laut (atau 686m dari permukaan danau Batur) ini merupakan kegiatan yang menarik bagi wisatawan yang suka pada alam serta kegiatan petualangan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan pemandu khusus yang menangani pendakian yang sudah dapat pembinaan secara menyeluruh dari instansi terkait, serta telah mendapat sertifikat khusus pendakian dari Disparda Bali pada tahun 2003.

Warung-warung kecil menjual minuman serta makanan tersedia di sepanjang jalur pendakian bahkan hamper sampai ke puncak gunung. Oleh sebab itu para pendaki tidak perlu membawa makanan atau minuman dalam jumlah yang banyak, karena mereka bisa membelinya di sepanjang jalur pendakian.

Wisatawan yang mendaki bisa langsung datang dari seperti Denpasar, atau menginap di penginapan yang ada di sekitar Penelokan atau Toya Bungkah. Wisatawan yang habis mendaki dapat menikmati hidangan dengan berbagai menu di rumah makan dan restaurant atau membeli makanan dan minuman di warung-warung yang banyak tersebar di sekitar Toya Bungkah.

Sumber-sumber yang menyebutkan tentang Batur adalah Lontar Kesuma Dewa, Lontar Usana Bali, dan Lontar Raja Purana Batur. Isi Lontar Usana Bali tersebut antara lain menyebutkan: adalah ceritera terjadi pada bulan Marga Sari (bulan ke-5) waktu Kresna Paksa(tilem) tersebutlah Betara Pasupati di India sedang memindahkan Puncak Gunung Mahameru di bagi menjadi dua, di pegang dengan tangan kiri dan kanan lalu di bawa ke Bali di gunakan sebagai sthana putra baliau, yaitu Betara Putranjaya (Hyang Maha Dewa) serta Betari Danuh, keduanya itulah sebagai ulunya Pulau Bali.

Untuk mencapai obyek wisata Batur dari Denpasar, wisatawan menempuh jarak 65km, dan dari kota Bangli 23km. setelah sampai disekitar Penelokan, wisatawan lalu turun ke lokasi pendakian yang dapat di tempuh dalam waktu sekitar 20menit.

Obyek wisata Batur dapat di capai dengan kendaraan bermotor. Obyek ini terletak pada jalan yang menghubungi kota Bangli dengan kota Singaraja. Sedangkan dari segi rute obyek, obyek wisata kawasan Batur menghubungkan obyek wisata Tampaksiring dan Besakih.

Selasa, 16 November 2010

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali



Hari Raya suci Umat Hindu yang umum dirayakan adalah : Nyepi, Galungan, piodalan, Sarasvati puja, Sivaratri puja dan sebagainya. Diantara pelaksanaan hari raya suci tersebut yang paling menonjol adalah hari raya Nyepi jatuhnya dalam periode waktu satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat ini matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakni waktu yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi dilengkapi dengan upacara Tawur (Bhuta Yajna) yaitu hari Tilem Chaitra dengan ketentuannya dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan apabila melaksanakan tawur hendaknya jangan mencari hari lain selain Tilem bulan Chaitra.

Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai dengan acara Melasti, kemudian sehari sebelum hari raya Nyepi dilangsungkan upacara Bhuta Yajna, dan sebagai hari penutup dilaksanakan Ngembak Agni sehari setelah hari raya Nyepi. Keseluruhan kegiatan ini dipusatkan di Pura Desa Puseh, dihadapan Tuhan Purusa atau Sri Visnu, dan Deva Brahma. Sebagai penyembah dalam kesadaran Krsna atas karunia sang guru kerohanian kita diberi penglihatan rohani dapat melihat pemandangan secara terang betapa agungnya kemulyaan Sri Visnu dengan nama lain Yajnapati, Tuhan penikmat dan tujuan akhir dari segala kurban suci bagi seluruh penghuni alam jagat raya.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali Upacara Melasti

Sebelum pelaksanaan Melasti, semua para deva (arca atau pratima) dari setiap pura dalam wilayah lingkungan kota atau desa diiring berkumpul di Pura Desa Puseh. Para deva satu-persatu berdatangan setelah lebih terdahulu bersujud menghadap Meru, Sri Visnu, kemudian distanakan berdampingan satu sama lain dalam satu bangunan memanjang yang disebut sebagai Balai Panjang atau Balai Agung. Keesokan harinya upacara Melasti dilangsungkan, Tuhan Sri Visnu dan para deva diiringi bersama-sama menuju laut atau ke mata air terdekat yang dianggap suci tergantung daerah masing-masing. Upacara Melasti tidak lain adalah upacara penyucian, prayascita. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan : “Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dari keterikatan dunia material,” sedangkan lontar Sundarigama menyatakan; “Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.” Air suci ini berasal dari muara sungai-sungai suci di India khususnya sungai Gangga.

Dalam Srimad Bhagavatam skanda sembilan disebutkan Raja Bhagiratha melakukan pertapaan agar air Gangga turun ke bumi, kemudian memohon kepada ibu Gangga membebaskan leluhurnya. Ibu Gangga tersembur dari kaki padma Tuhan Sri Visnu, Beliau dapat membebaskan seseorang dari ikatan material. Nampak nyata bahwa siapapun yang secara teratur menyembah Ibu Gangga semata-mata dengan mandi di airnya dapat memelihara kesehatan dengan sangat baik dan perlahan-lahan menjadi penyembah Tuhan. Mandi air Gangga dipermaklumkan dalam semua susastra Veda, dan orang yang mengambil manfaat tentu sepenuhnya dibebaskan dari reaksi dosa.

Seusai acara Melasti, pada suatu daerah desa tertentu sebelum Sri Visnu dan para deva menuju Pura Desa Puseh terlebih dahulu diiring (dituntun) ke pasar mengikuti acara mepasaran di hadapan Pura Melanting dimana berstana Devi Sri, Devi Laksmi, Devi Keberuntungan. Sekembalinya para deva dari acara mepasaran setelah terlebih dahulu menghadap Sri Visnu, akhirnya para deva berstana di Balai Agung. Sementara Sri Visnu berstana di Meru dan Deva Brahma berstana pada bangunan Gedong di sebelah Meru. Acara berstana ini disebut Nyejer dan berlangsung sampai selesai acara Bhuta Yajna, sehari menjelang hari raya Nyepi, pada sore hari.

Selama beberapa hari seluruh warga dan adat setempat melakukan puja, mempersembahkan sesajen atau persembahan yang disebut prani. Pada saat ini pula umat memohon tirta Amrta air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya, semua makhluk, dan alam semesta. Melalui acara Nyejer terkandung pula permohonan umat kepada Sri Visnu dan para deva untuk menyaksikan upacara Bhuta Yajna yang dilakukan oleh umatnya.

Upacara Bhuta Yajna

Sehari sebelum hari raya Nyepi adalah hari terakhir dari serangkaian upacara di Pura Desa Puseh tersebut, tepatnya pada hari Tilem Chaitra (Kesanga) dilangsungkan upacara Bhuta Yajna yang dikenal dengan Pengerupukan yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sri Visnu, manusia dengan sesama makhluk ciptaan-Nya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup.

Dalam Bhagawadgita 4.8 Sri Krsna bersabda : Paritranaya sadhunam vinasaya ca duksrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma. Aku sendiri muncul pada setiap zaman.

Tentang Bhuta Yajna ini di dalam Agastya Parwa dinyatakan Bhuta Yajna adalah Tawur untuk kesejahteraan makhluk. Dalam hubungannya dengan hari raya Nyepi, wujud upacara Bhuta Yajna lebih dikenal Tawur Kesanga yang dilihat dari tingkat penyelenggaraannya dari tingkat yang paling besar : seratus tahun sekali disebut Ekadasa Rudra, setiap sepuluh tahun disebut Panca Wali Krama dan setiap tahun sekali disebut Tawur Kesanga.

Upacara Hari Raya Nyepi

Menurut keputusan Seminar Kesatuan Tapsir terhadap Aspek-spek Agama Hindu tentang Hari Raya Nyepi (1988) bahwa Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, pada hakekatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut : (1). Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, (2). Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, (3). Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri, (4). Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” yaitu fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24) jam.

Upacara Ngembak Agni

Hari Ngembak Agni jatuh setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma shanti baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

Dharma shanti dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam kelurga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru terbinanya kerukunan dan perdamaian. Sedangkan dharma santi di lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan dharma wecana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung kekawin pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan serta memberikan “punia” atau berdarma sosial kepada yang patut menerimanya.

Minggu, 31 Oktober 2010

Trunyan Tour





Desa Trunyan



Desa Trunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kintamani kabupaten Bangli. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang unik dan menarik. Bali Aga berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti orang Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu kebudayaan petani yang konservatif.

Berdasarkan folk etimologi, penduduk Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi. Versi pertama : orang Trunyan adalah orang Bali turunan, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka turun dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu mite atau dongeng suci mengenai asal usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit. Versi kedua: orang Trunyan hidup dalam sistim ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang memancarkan bau-bauan wangi. Dari perpaduan "taru" dan "menyan" berkembang menjadi kata Trunyan yang di pakai nama desa dan nama penduduk desa tersebut.

Menurut Dananjaya yang dikutip pada tahun 1980, dia memandang ada 11 cerita prosa rakyat (satu mite dan 10 legenda), dan sebuah anggapan rakyat yang dapat digunakan sebagai bahan penyusunan sejarah Desa Trunyan. Salah satu legenda itu di sajikan dalam tulisan ini, yaitu legenda mengenai Pasek Terunyan yang menyelewengkan gambelan pemberian Dalem Solo.

Konon Dalem Solo mempunyai seorang putra yang sedang memerintah di Tirta Empul, Tampaksiring. Pada suatu ketika putera tersebut pergi ke Majapahit untuk meminta di buatkan seperangkat gambelan.

Desa Trunyan terletak di sebelah timur bibir danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang.

Hawa udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12 derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat Bali selatan dan timur.
Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:

1. Meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

2. Dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.

apa komentar anda?

Jumat, 29 Oktober 2010

Air Panas Banjar


Air panas Banjar adalah suatu air panas alam yang dianggap dapat menyembuhkan penyakit. Airnya ditampung pada suatu kolam renang mungil dikelilingi oleh alam pedesaan yang unik, letaknya dekat di sebuah Wihara.

Air panas Banjar terletak di desa Banjar, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng. Jarak tempuhnya 1,5 Km dari pertigaan Banjar atau 24 Km dari kota Singaraja. Untuk mencapai lokasi air panas Banjar dapat di gunakan kendaraan bermotor karena jalannya beraspal. Penginapan atau akomodasi yang paling dekat adalah hotel dan restoran yang paling banyak terdapat di kawasan Lovina. Kendaraan umum banyak karena melalui jalan raya yang menghubungkan kota Singaraja dengan kota-kota kecamatan di bagian barat.

Sumber mata air panas ini di perkirakan berumur ratusan tahun, dan sejak pendudukan Jepang sumber air panas ini telah di benahi dan di manfaatkan. Pemerintah Jepang membangun tiga buah kolam penampungan air untuk berendam, sebab berendam dalam air panas yang mengandung belerang akan bisa menyembukan penyakit kulit. Oleh Jepang di bangun juga tempat peristirahatan perwira militernya. Permandian yang di bangun pemerintah Jepang ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Disamping untuk berendam, wisatawan dapat berenang dalam kolam air panas, serta jatuhnya air pancuran di tubuhnya yang seoalah-olah sedang memijat tubuh kita, terutama kolam yang dilengkapi dengan pancuran setinggi 3,5 meter, sehingga dapat mengakibatkan kondisi badan menjadi lebih segar.

Air panas Banjar kemudian semakin dikenal untuk dikunjungi wisatawan Nusantara dan Mancanegara. Untuk mengelola obyek wisatawan ala mini maka dibentuklah sebuah yayasan yaitu “yayasan yeh panes nirmala” pada tanggal 12 juni 1984